Thursday, December 1, 2011

Tadabur Surah Al Fatihah

Ayat 1: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

Rasakan betapa besar kasih sayang Allah kepada kita semua, bayangkan semua nikmat yang telah kita terima dariNya. Nikmat udara yang kita hirup, nikmat penglihatan, nikmat pendengaran, nikmat sehat. Apakah kita sudah berterima kasih padaNya??. Rasakan kasih sayang dan sifatnya yang maha pengasih serta pemurah. Rasakan getaran dihati anda, hingga timbul dorongan untuk menangis. Silahkan menangis jika dorongan itu memang kuat. Jangan tahan tangisan anda.



Ayat 2: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”

Rasakan betapa mulianya Allah, betapa Agungnya Dia , hanya Dialah yang berhak dipuji. Dialah Tuhan penguasa Alam semesta yang maha mulia dan Maha terpuji. Rasakan betapa hina dan tidak berartinya kita dihadapan Dia. Lenyapkan semua kesombongan diri dihadapaNya. Rasakan getaran yang dahsyat didada anda…



Ayat 3: “Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”

Rasakan seperti pada ayat pertama

Ayat 4: “Yang menguasai hari pembalasan”

Bayangkan seolah olah anda berada dihapan Allah di padang Mahsyar kelak. Dia lah penguasa tunggal dihari itu. Bagaimana keadaan anda dihari itu? Rasakan dan hayati ayat tadabbur yang anda dengar. Biarkan airmata anda mengalir . Menangislah dihadapan Allah pada hari ini , disaat pintu taubat masih terbuka. Jangan sampai anda menangis kelak dihari berbangkit ketika pintu taubat telah tertutup



Ayat 5: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”

Inilah pengakuan anda bahwa hanya Dia yang anda sembah, dan hanya padaNya anda mohon pertolongan. Buatlah pengakuan dengan tulus dan iklas.



Ayat 6: “Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Mohonlah padanya agar ditunjuki jalan yang lurus. Jalan yang penuh dengan rahmat dan berkahNya. Dengarkan dan hayati kalimat tadabbur yang anda dengar



Ayat 7: “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

Bayangkan jalan orang orang yang telah mendapat nikmat , kebahagian dan kesuksesan sebagai karunia dari sisinya. Berharaplah untuk mendapat kebahagian seperti orang itu.
Bayangkan pula jalan orang orang yang mendapat murka dan azabnya
Bayangkan pula jalan yang ditempuh orang yang sesat mohon agar dijauhkan dari jalan itu.


Jika anda orang yang berhati peka pasti anda akan menangis, mendengar bacaan tadabbur ini. Jika anda belum merasakan getaran apapun dihati anda. Ulangi terus tadabbur ini. Gunung saja akan hancur mendengar ayat Qur’an , hati anda tidak sebesar gunung bukan? Mudah mudahan Allah tidak mengunci mati hati anda ..

Wednesday, May 11, 2011

s.a.b.a.r

Menunggu adalah perbuatan yang sangat tidak menyenangkan apalagi kita menunggu sesuatu yang tidak pasti. Menunggu dengan kepastian waktu yang jelas dan tepat kita bisa prediksi dan dapat waktunya kita isi dengan sesuatu dengan prediksi yang pasti.

Sedangkan menunggu dengan ketidakpastian adalah seuatu yang tidak menyenangkan, menunggu dengan mengalihkan pikiran kita pada hal yang menyenangkan dan berguna itu yang di sebut sabar, pikiran kita diarahkan kepada sesuatu yang menyenangkan dan berguna menurut kita akan lebih produktif dan dapat membuang waktu yang tidak pasti tersebut lebih berguna.

Tuesday, May 10, 2011

Innama a'malu bin niat

Ketika aku akan melakukan sesuatu aku akan megucapkan dalam hati, aku berbicara dalam hati kecil ku, aku akan melakukan ini itu selalu akan ku ucapkan dalam hati kecil ku, itu lah yang disebut niat. Ibarat kita akan menggunakan komputer tentunya yang pertama dilakukan adalah login dengan menggunakan password yang benar maka kita akan dapat menggunakan komputer tersebut.

Niat adalah awal untuk melakukan sesuatu, ada dua pilihan yaitu baik dan buruk. Apabila kita memilih niat baik maka semua yang akan kita lakukan akan menjadi baik demikian sebaliknya apabila niat buruk maka yang akan kita kerjakan akan menjadi buruk. Innama a'malu bin niat artinya "segala pebuatan tergantung pada niatnya".

Wednesday, February 16, 2011

Memimpin itu Menderita

Memimpin itu Menderita
Oleh jakob sumarjo

JUDUL esai di atas bukan karangan saya, tetapi saya kutip dari karangan Mohamad Roem tentang Haji Agus Salim. Tokoh Haji Agus Salim jarang kita ingat lagi. Beliau tokoh besar Indonesia yang dinilai lawan politiknya, Prof. Schermer-horn, sebagai seorang yang sangat luar biasa, seorang genius bahasa yang mampu bicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat.

Titik inilah yang menjadi fokus tulisan tokoh nasional kita juga, Mohamad Roem, ketika menulis Agus Salim dan keluarganya senantiasa pindah-pindah rumah kontrakan antara Bogor dan Jakarta. Padahal, beliau menjadi menteri luar negeri berkali-kali dan perunding yang disegani Belanda dan Inggris. Seorang pemimpin memang harus menderita, bukan hanya di zaman kolonial terancam keluar masuk penjara, tetapi juga di masa pascake-merdekaan rakyat Indonesia dan negara ini masih miskin.

Haji Agus Saiim mirip tokoh-tokoh legenda yang tak masuk akal, misalnya Kaisar Cina bernama Yao, yang istananya dibuat dari tanah dan kayu, tak berbeda dengan rumah-rumah rakyatnya. Ketika berkeliling menyambangi korban banjir, kaisar ini diberi tahu bahwa permaisurinya sedang berjuang melahirkan putranya, tetapi ia lebih mementingkan mengurusi rakyat korban banjir daripada mampir ke istana.

Pemimpin modern yang mirip dongeng terjadi pada pemimpin Vietnam Ho Chi Minh. Ketika berkunjung ke Indonesia, dia mengenakan caping petani dan beralaskan sandal jepit. Ketika keek-sentrikan ini ditanyakan wartawan, dia menjawab, "Semua rak-syat saya masih berpakaian seperti yang saya pakai sekarang." Pemimpin itu menderita karena lebih memikirkan nasib rakyatnya daripada nasibnya sendiri dan keluarganya. Rakyat adalah tanggungjawab pemimpin. Mereka yang menjadi pemimpin itu karena ada yang namanya rakyat. Tidak ada pemimpin tanpa ada yang dipimpin. Rakyat adalah bagian dari diri pemimpin, seperti Anda disebut "ayah" karena punya istri dan anak-anak. Kalau Anda ayah yang bertanggungjawab untuk dipanggil "ayah", penderitaan anak-anak Anda adalah penderitaan Anda. Rakyat adalah anak kandung pemimpin.

Pemimpin itu bukan pekerjaan seperti menjadi dokter atau pengacara. Pemimpin tidak mencari pekerjaan dan gaji dari kepemimpinannya. Orang macam begini sama sekali tidak pantas disebut pemimpin. Saya kira, seandainya pribadi semacam Haji Agus Salim menjadi gubernur maka begitu ada kompor gas yang meledak dan menewaskan pemiliknya, atau pengendara motor yang tewas akibat terperosok ke lubang jalan raya, beliau tentu akan mengundurkan diri sebagai gubernur dan berhari-hari sesudahnya akan memohon pengampunan Allah atas keteledorannva. Pemimpin itu menderita karena meskipun telah berupaya menjadi pemimpin sejati, tidak akan pernah sepi dari kritik dan hujatan lawan-lawan politiknya. Tidak usah marahlah. Setiap kebenaran adalah kebenaran, sebab mutiara itu sekalipun keluar dari mulut anjing tetap mutiara. Dan jelas bahwa pemimpin itu bukan anjing.

Lho, Pak, itu kan model pemimpin zaman baheula, zaman Harun Al Rashid. Sekarang zaman postmodern Pak, jangan ngimpi. Ya, jadi Anda ingin pemimpin itu tidak usah menderita? Pemimpin sekarang justru menjadi pemimpin untuk melepaskan penderitaan hidupnya? Bahwa pemimpin itu tak beda dengan menjadi arsitek real estate yang gajinya besar? Bahwa menjadi pemimpin itu takbeda jauh dengan melamar pekerjaan? Tradisi melamar menjadi pemimpin melalui tes urine, tes psikologi (kalau ada pelamar gila), tes bakat, tes profesi, tes agama, itu hanya tradisi yang dijalankan di negeri tetangga Indonesia, yaitu Astina.

Karena ini zaman citra. Anda berpendapat pemimpin itu tampilannya harus keren? Mobilnya harus mutakhir, rumahnya harus gedung di daerah elite, tempat belanjanya harus eksklusif buat kelas pemimpin bangsa? Zaman sekarang terus berubah. Jarak antara Agus Salim dan masa kini lebih dari setengah abad. Membandingkan Agus Salim, Ho Chi Minh, Kaisar Yo, Harun Al Rashid adalah absurd. Akan tetapi, bukankah seorang pemimpin rakyat tetap manusia juga? Manusia itu senantiasa dinilai kualitasnya dari keinginan-kei-nginannya yang baik, pemikirannya yang baik, dan tingkah laku pengambilan keputusan dan ucapan-ucapannya yang baik untuk rakyat banyak? , Terkutuklah suatu bangsa yang memiliki pemimpin yang tidak mau menderita, tidak bersedia miskin, hanya memikirkan gengsi dan citra diri. Bersyukurlah bangsa Indonesia karena belum pernah mempunyai pemimpin-pemimpin semacam itu.
*** Penulis, budayawan.

Tuesday, February 15, 2011

Kita Hanyalah Musafir

Kita Hanyalah Musafir
Penulis : Ustadz Anwar Anshori Mahdum

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan".
(QS Al-Baqarah [2] : 28)

Ketahuilah sahabat, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan sebentar dalam perjalanan panjang menuju negeri yang pasti dan abadi. Rasulullah saw berpesan kepada kita: "Jadilah dirimu di dunia ini seperti orang-orang asing atau seorang musafir!" (HR Ahmad, Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

Dr. Yusuf Qardhawi menasihati kita lewat bukunya "Al-Waqtu fi Hayati Muslim" (Waktu dalam Kehidupan Muslim): "Sesungguhnya berlalunya masa dan berputarnya siang dan malam bagi seorang muslim tidak boleh dibiarkan tanpa mengambil pelajaran darinya. Paling tidak, ia memikirkan kalau memang belum dapat mengambil pelajaran darinya. Sadarilah, bahwa setiap waktu berjalan terjadi seribu satu macam kejadian, dari yang dapat kita indrai sampai yang tidak dapat".

Sahabat, tidak dapat kita bantah bahwa manusia dengan fitrahnya senang akan kehidupan yang baik dan juga mengharapkan usia yang panjang. Bahkan kalau bisa, kita ingin hidup selama-lamanya. Namun tidak dapat kita sangkal bahwa menginginkan kehidupan yang kekal di dunia adalah kemustahilan, sebab dunia yang sifatnya temporer ini suatu saat akan hancur bersama dengan semua yang ada di dalamnya. Manusia dibatasi dengan kematian sebagai akhir suatu perjalanan atau batas kehidupan yang pasti terjadi dan tidak bisa ditolaknya. Kematian adalah akhir dari perjalanan kehidupan dunia yang fana dan pintu gerbang kehidupan yang kekal, yaitu akhirat. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita agar selalu menyadari tentang kesementaraan kehidupan dunia ini. Dunia hanyalah tempat mengumpulkan bekal, agar kelak kita diterima Allah sebagai tamu yang baik dan ditempatkan pada tempat yang baik pula. Umur dunia sangat pendek, terlebih umur kita. Jangankan dibandingkan dengan lamanya waktu di akhirat, dibandingkan dengan waktu di dalam kubur saja, tentu tidak ada sekejapnya. Di sisi lain, kesementaraan hidup di dunia juga digambarkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya: "Dunia (hanyalah berumur) tujuh harinya hari-hari akhirat" (HR Ad- Dailami).

Jika umur dunia semenjak diciptakan hingga dihancurkan (kiamat) kelak hanya sebanding dengan tujuh harinya hari-hari akhirat, maka akan tergambar oleh kita bahwa umur kita tidak ada satu detik pun dari hari-hari akhirat. Jikalau kita mau menggunakan akal sehat dan berpikir sejenak tentang hakikat hidup di dunia ini, niscaya selain waktunya sangat sementara dan hanya satu kali terjadi, juga akan kita sadari bahwa kehidupan kita yang sangat sementara dan satu kali itu menjadi faktor penentu bahagia-sengsaranya kita dalam menjalani kehidupan yang sesungguhnya di akhirat kelak. Akhirat adalah kehidupan pasca dunia yang panjang, dan panjangnya tak terkirakan.

Ketahuilah, kematian bukanlah perjalanan akhir bagi kehidupan sebenarnya, tetapi hanya merupakan tempat singgah (transit). Kematian itu sebenarnya hanya merupakan perpindahan dari satu norma ke norma yang lain. Kematian adalah suatu tanda bahwa kehidupan masa uji coba manusia telah selesai. Ketika hidup di dunia manusia dihadapkan pada pilihan- pilihan yang menjadi cobaan dan ujian baginya. Namun ketika kematian datang, selesailah kesempatan untuk memilih. Pada fase baru ini manusia dipaksa untuk meyakinkan dirinya bahwa ia mati. Pada saat inilah ia dapat melihat malaikat maut dan alam Allah yang sebelumnya terhijab (tertutup).

Disebutkan dalam firman Allah: "Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam" (QS Qaaf [50] : 22).

Ketika berada di alam substansi (dzar) dulu, kita pernah mengalami kematian. Setelah itu kita ke dunia menjadi makhluk hidup, dan tidak lama kemudian kita akan mengalami kematian lagi. Selanjutnya kita akan dibangkitkan, sebagaimana disebutkan dalam Al- Qur'an: "Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan" (QS Al-Baqarah [2] : 28)

Ketahuilah, pasca di dunia ini masih ada alam kubur. Pasca alam kubur masih ada kiamat dan hari kebangkitan. Pasca kebangkitan masih ada alam padang mahsyar (mauqif) dan penimbangan amal (yaumulhisab) . Pasca yaumul-hisab masih ada kehidupan yang tidak terkirakan lamanya dan tidak mengenal batas akhir, yakni surga atau neraka. Pada saat itu sejarah kemanusiaan sudah usai dan perjalanan telah berakhir dengan pasti. Yang terbentang di hadapan manusia saat itu adalah era kehidupan surga atau neraka.

Wednesday, February 9, 2011

Membelah Bulan


Berbagai macam mukjizat telah diberikan Allah SWT kepada kekasihNya Rasullah Muhammad SAW, untuk memberi kebenaran atas Kerasulan yang disandangnya. Salah satu mukjizat dari Rasulullah Muhammad SAW, ialah “Membelah Bulan”. Sebagaimana hadits riwayat Abdullah bin Mas`ud Radhiyallahu’anhu berikut ini, ia berkata :

“Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah SAW lalu Rasulullah SAW bersabda : Saksikanlah oleh kalian.” (Shahih Muslim No. 5010)

Hadist riwayat Anas RA, dia berkata :

“Penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah SAW untuk diperlihatkan kepada mereka satu mukjizat (tanda kenabian), maka Rasulullah SAW memperlihatkan kepada mereka mukjizat terbelahnya bulan sebanyak dua kali.” (Shahih Muslim No. 5013)

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :
“Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.”

Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya : “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi “Telah dekat hari kiamat dan bulan pun telah terbelah” mengandung mukjizat secara ilmiah?”

Maka professor pun menjawabnya :
“Tidak, sebab kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya.

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya.

Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu.

Akan tetapi, hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu”.

Dan setelah selesai Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata : “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?”

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab : “Dipersilahkan dengan senang hati.”

Daud Musa Pitkhok berkata :
“Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemahan makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya, dan aku pun membawa terjemahan itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya :

“Telah dekat datangnya saat itu dan Telah terbelah bulan [1434]. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. Dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya[1435].” (QS. Al-Qamar : 1-3)

[1434] Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan “terbelahnya bulan”, ialah suatu mukjizat nabi Muhammad SAW.

[1435] Maksudnya, bahwa segala urusan itu pasti berjalan sampai waktu yang Telah ditetapkan terjadinya, seperti: urusan Rasulullah dalam meninggikan kalimat Allah pasti sampai pada akhirnya yaitu kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. sedang urusan orang yang mendustakannya pasti sampai pula pada akhirnya, yaitu kekalahan di dunia dan siksaan di akhirat.

Maka aku pun bergumam : “Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu???”

Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya, dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.

Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa Amerika Serikat. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa.

Daripada itu, diantara diskusi hangat tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar.

Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata : “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?”

Mereka pun menjawab : “Tidak! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.”

Maka presenter itu pun bertanya : “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?”

Mereka menjawab : “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali!”

Presenter pun bertanya : “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?”

Mereka menjawab : “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah dan terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka, kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi, kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan :
“Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin! Subhanallah.”

Agama Islam ini tidak mungkin salah (aku pun bergumam) : “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar sambil mencucurkan air mata, saat itulah awal aku menerima dan masuk Islam, saat terindah dalam hidupku sekaligus saat paling penting dalam hidup ku."

Maha Benar Allah Atas Segala Firmannya. Subhanallah.....Allaahu Akbar. Laa Khaula Wa Laa Quwwata Illa Billaah.

Friday, February 4, 2011

Berlomba-lomba berbuat kebaikan

“Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yg kami pilih di antara hamba-hamba kami lalu di antara mereka ada yg mendzalimi diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yg pertengahan dan di antara mereka ada yg lbh dahulu berbuat kebaikan dgn izin Allah yg demikian itu adl karunia yg amat besar.”

Allah SWT membagi umat Islam ke dalam tiga bagian. Masing-masing sesuai dgn kadar perbuatannya. Mereka yg amal buruknya lbh banyak disebut telah mendzalimi dirinya sendiri. Gambaran mereka disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam masalah sholat seperti orang yg sholatnya tidak tepat waktu bahkan sering mengakhirkan sholatnya sampai hampir masuk waktu sholat lainnya. Kelompok kedua adl umat Islam yg antara amal kebaikan dan keburukannya seimbang. Disebutkan oleh Ibnu Taimiyah sebagai orang yg melaksanakan kewajibannya tanpa mempedulikan sunnah-sunnah seperti mereka mengerjakan sholat wajib tepat waktu dan berjamaah hanya saja tidak menambah dgn sholat-sholat sunnah. Adapun yg ketiga adl mereka yg amal baiknya lbh banyak dari amal buruknya. Mereka disebut telah melaksanakan ajaran Islam dgn baik pada tiap kesempatan dan mereka inilah yg dinamai ‘Saabiqun Lilkhairaat. Permisalannya seperti orang yg sholat wajib tepat waktu berjamaah dan menambah dgn sholat-sholat sunnah. Tentunya kita umat Islam hendaknya berupaya utk menjadi kelompok ketiga tersebut agar kualitas umat Islam tidak seperti buih laut. Kelihatannya mayoritas secara kuantitas tetapi kualitas pemahaman dan aplikasi Islamnya sangat rendah.
Maka dari itu marilah kita memenuhi panggilan Al-Quran ‘Fastabiqul Khairaat’ . Hal itu berarti kita harus menyingsingkan baju menggunakan tiap potensi dan peluang utk kepentingan Islam guna menggapai surga yg lebarnya seluas langit dan bumi disediakan bagi mereka yg bertakwa