Memimpin itu Menderita
Oleh jakob sumarjo
JUDUL esai di atas bukan karangan saya, tetapi saya kutip dari karangan Mohamad Roem tentang Haji Agus Salim. Tokoh Haji Agus Salim jarang kita ingat lagi. Beliau tokoh besar Indonesia yang dinilai lawan politiknya, Prof. Schermer-horn, sebagai seorang yang sangat luar biasa, seorang genius bahasa yang mampu bicara dan menulis dengan sempurna dalam paling sedikit sembilan bahasa, mempunyai hanya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat.
Titik inilah yang menjadi fokus tulisan tokoh nasional kita juga, Mohamad Roem, ketika menulis Agus Salim dan keluarganya senantiasa pindah-pindah rumah kontrakan antara Bogor dan Jakarta. Padahal, beliau menjadi menteri luar negeri berkali-kali dan perunding yang disegani Belanda dan Inggris. Seorang pemimpin memang harus menderita, bukan hanya di zaman kolonial terancam keluar masuk penjara, tetapi juga di masa pascake-merdekaan rakyat Indonesia dan negara ini masih miskin.
Haji Agus Saiim mirip tokoh-tokoh legenda yang tak masuk akal, misalnya Kaisar Cina bernama Yao, yang istananya dibuat dari tanah dan kayu, tak berbeda dengan rumah-rumah rakyatnya. Ketika berkeliling menyambangi korban banjir, kaisar ini diberi tahu bahwa permaisurinya sedang berjuang melahirkan putranya, tetapi ia lebih mementingkan mengurusi rakyat korban banjir daripada mampir ke istana.
Pemimpin modern yang mirip dongeng terjadi pada pemimpin Vietnam Ho Chi Minh. Ketika berkunjung ke Indonesia, dia mengenakan caping petani dan beralaskan sandal jepit. Ketika keek-sentrikan ini ditanyakan wartawan, dia menjawab, "Semua rak-syat saya masih berpakaian seperti yang saya pakai sekarang." Pemimpin itu menderita karena lebih memikirkan nasib rakyatnya daripada nasibnya sendiri dan keluarganya. Rakyat adalah tanggungjawab pemimpin. Mereka yang menjadi pemimpin itu karena ada yang namanya rakyat. Tidak ada pemimpin tanpa ada yang dipimpin. Rakyat adalah bagian dari diri pemimpin, seperti Anda disebut "ayah" karena punya istri dan anak-anak. Kalau Anda ayah yang bertanggungjawab untuk dipanggil "ayah", penderitaan anak-anak Anda adalah penderitaan Anda. Rakyat adalah anak kandung pemimpin.
Pemimpin itu bukan pekerjaan seperti menjadi dokter atau pengacara. Pemimpin tidak mencari pekerjaan dan gaji dari kepemimpinannya. Orang macam begini sama sekali tidak pantas disebut pemimpin. Saya kira, seandainya pribadi semacam Haji Agus Salim menjadi gubernur maka begitu ada kompor gas yang meledak dan menewaskan pemiliknya, atau pengendara motor yang tewas akibat terperosok ke lubang jalan raya, beliau tentu akan mengundurkan diri sebagai gubernur dan berhari-hari sesudahnya akan memohon pengampunan Allah atas keteledorannva. Pemimpin itu menderita karena meskipun telah berupaya menjadi pemimpin sejati, tidak akan pernah sepi dari kritik dan hujatan lawan-lawan politiknya. Tidak usah marahlah. Setiap kebenaran adalah kebenaran, sebab mutiara itu sekalipun keluar dari mulut anjing tetap mutiara. Dan jelas bahwa pemimpin itu bukan anjing.
Lho, Pak, itu kan model pemimpin zaman baheula, zaman Harun Al Rashid. Sekarang zaman postmodern Pak, jangan ngimpi. Ya, jadi Anda ingin pemimpin itu tidak usah menderita? Pemimpin sekarang justru menjadi pemimpin untuk melepaskan penderitaan hidupnya? Bahwa pemimpin itu tak beda dengan menjadi arsitek real estate yang gajinya besar? Bahwa menjadi pemimpin itu takbeda jauh dengan melamar pekerjaan? Tradisi melamar menjadi pemimpin melalui tes urine, tes psikologi (kalau ada pelamar gila), tes bakat, tes profesi, tes agama, itu hanya tradisi yang dijalankan di negeri tetangga Indonesia, yaitu Astina.
Karena ini zaman citra. Anda berpendapat pemimpin itu tampilannya harus keren? Mobilnya harus mutakhir, rumahnya harus gedung di daerah elite, tempat belanjanya harus eksklusif buat kelas pemimpin bangsa? Zaman sekarang terus berubah. Jarak antara Agus Salim dan masa kini lebih dari setengah abad. Membandingkan Agus Salim, Ho Chi Minh, Kaisar Yo, Harun Al Rashid adalah absurd. Akan tetapi, bukankah seorang pemimpin rakyat tetap manusia juga? Manusia itu senantiasa dinilai kualitasnya dari keinginan-kei-nginannya yang baik, pemikirannya yang baik, dan tingkah laku pengambilan keputusan dan ucapan-ucapannya yang baik untuk rakyat banyak? , Terkutuklah suatu bangsa yang memiliki pemimpin yang tidak mau menderita, tidak bersedia miskin, hanya memikirkan gengsi dan citra diri. Bersyukurlah bangsa Indonesia karena belum pernah mempunyai pemimpin-pemimpin semacam itu.
*** Penulis, budayawan.
No comments:
Post a Comment